Lebih Dari 95% Konstitusi AS Telah Rusak

Oleh: Gerald Flurry
Agustus 2011
Sumber: The Trumpet

Pernyataan fanatik? Bapak Pendiri negara kita meramal ini akan terjadi jika “agama dan moralitas pribadi” merosot tajam. Ini telah terjadi. Tapi tetap saja, hampir tak seorangpun menghiraukan peringatan Bapak Pendiri. Kurangnya tanggapan ini mengungkap betapa kecil arti Konstitusi bagi kita.

Konstitusi AS adalah hukum tertinggi negeri ini. Ketika masyarakat tak lagi menjaga hukum tersebut, sebuah krisis akan melempar kita ke dalam anarki keras dan kekacauan destruktif, demikian ramalan Bapak Pendiri kita. Kecuali kalau Konstitusi kita didasarkan pada agama biblikal dan moralitas biblikal, itu tidak akan bekerja, demikian pernyataan Bapak Pendiri.

Majalah Time baru-baru ini menulis sebuah artikel sampul tentang bagaimana Konstitusi AS sedang terkepung, tapi tidak genting. Saya tidak sependapat sama sekali. Konstitusi AS sedang terbaring di ranjang kematiannya. Tapi hampir tak seorangpun paham atau tahu alasannya.

Maukah kita izinkan Bapak Pendiri memberitahu alasannya?

Kristen hari ini telah menjadi ritual kosong. Apa yang Kristen Amerika lakukan untuk menyetop kita membanjiri dunia dengan pornografi penghancur keluarga? Tak ada negara lain yang bahkan mendekati apa yang kita produksi!

Apa kata Kristen Amerika tentang agama dan moralitas pribadi? Siapapun yang paham Alkitab tahu bagaimana Alkitab mengutuk kebobrokan moral sesakit itu!

New York adalah negara bagian keenam yang menyetujui “pernikahan” homoseksual. Pernikahan adalah sejenis buah sulung yang menikahi Yesus Kristus (Wahyu 19:7). Itu adalah permulaan seluruh umat manusia dituntun ke dalam Keluarga Tuhan selamanya. Itu juga merupakan gospel, kabar gembira kedatangan Keluarga atau Kerajaan Tuhan.

Orang-orang yang mempromosikan “pernikahan” homoseksual berusaha mendefinisikan ulang apa itu pernikahan dan keluarga. INI ADALAH UPAYA KEJI UNTUK MENGHANCURKAN INTI PESAN KABAR GEMBIRA BIBLIKAL UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA! (Pesan buklet gratis kami Why Marriage! Soon Obsolete? dan The God Family Vision untuk informasi lebih jauh.)

Sebab utama homoseksualitas adalah keberantakan keluarga. Alih-alih mengubah keluarga yang berantakan, kita justru menyetujui “pernikahan” homoseksual dan menambah dosa keji kita.

Di mana para pemimpin Kristen hari ini yang mau sekadar melabeli homoseksualitas sebagai dosa? Alkitab adalah Yesus Kristus dalam bentuk cetak. Kristiani sejati adalah orang yang mengikuti Kristus. Alkitab melabeli homoseksualitas sebagai abominasi.

Di mana para pemimpin kita yang mau berkata tegas menentang keberantakan keluarga, pornografi, penggunaan narkoba dan kejahatan yang ditimbulkannya? Kecanduan narkoba kita telah mengubah Meksiko jadi zona perang.

Konstitusi tidak akan berfungsi untuk orang-orang amoral biblikal semacam itu! Siapa yang mau mendengar ramalan Bapak Pendiri kita sendiri? Semua partai politik bersalah telah menolak peringatan mereka.

Perang Terhadap Konstitusi

Kekaisaran Yunani berusaha menegakkan aturan/kepastian hukum (rule of law). Ia gagal dan kekaisarannya runtuh. Kekaisaran Romawi juga berusaha membangun masyarakat berlandaskan hukum. Ia tak mampu melakukannya, dan ia juga gagal. Banyak kekaisaran lain mengalami kegagalan yang sama.

Sejarawan kenamaan Inggris Paul Johnson menulis artikel berjudul “No Law Without Order, No Freedom Without Law”. Itu dicetak di Sunday Telegraph, 26 Desember 1999. Di dalamnya dia menulis, “Aturan hukum, berbeda dari aturan seseorang, atau golongan, atau masyarakat, dan berlawanan dengan aturan kekuatan (rule of force), adalah konsep abstrak dan sofistik. IA SULIT SEKALI DICAPAI. Tapi sebelum itu tercapai, dan ditegakkan dalam pikiran khalayak dengan begitu berapi-api HINGGA MASSA PERORANGAN SIAP MATI DEMI MENJUNJUNG TINGGINYA, tak ada bentuk kemajuan lain yang bisa dianggap aman. Bangsa Yunani telah berusaha menegakkan aturan hukum tapi gagal. Bangsa Romawi berhasil di bawah republik mereka tapi Caesar dan para penerusnya menghancurkannya. Esensi aturan hukum adalah impersonalitas, kemahakuasaan, dan ubikuitasnya. Ia adalah aturan yang sama untuk setiap orang, di setiap tempat—raja, kaisar, pendeta tinggi, negara itu sendiri, tunduk padanya. Jika dibuat pengecualian, aturan hukum mulai runtuh—itulah pelajaran agung dari zaman purbakala” (penekanan ditambahkan).

Ya, “itulah pelajaran agung” dari sejarah. Tapi sudahkah kita mengambil pelajaran itu? Tidak mengambil pelajaran ini sama artinya dengan kita membayar pengorbanan tertinggi: hilangnya republik kita.

Persoalan tiada henti manusia adalah dia tidak belajar dari sejarah.

Apakah “massa perorangan…siap mati” demi menjunjung tinggi aturan hukum Amerika? Tn. Johnson menyatakan ini adalah satu-satunya keamanan kita!

Apa Anda merasa aman?

Cita-cita Kakek Moyang Kita

Imigran terdahulu yang datang ke tanah ini sering dipersekusi di negara asal mereka. Biasanya mereka tak punya kebebasan beragama.

“Di Virginia maupun di New England di utara, para kolonis adalah orang-orang teguh dan bertakwa,” tulis Tn. Johnson, “seringkali mencari toleransi keagamaan yang ditolak di kampung halaman, yang membawa keluarga mereka dan sangat ingin bertani dan mendirikan permukiman permanen. Mereka mendahulukan kebebasan politik dan beragama daripada kekayaan…hingga mengambil bentuk dinamo ekonomi yang akhirnya menjadi Amerika Serikat—sebuah eksperimen yang dirancang untuk menegakkan aturan Tuhan di Bumi…” (ibid).

Sungguh cita-cita besar. Mereka berencana menegakkan aturan Tuhan di Bumi! Artinya mereka bercita-cita setiap orang menuruti Sepuluh Perintah Tuhan—dasar semua hukum yang adil.

Berapa banyak orang Amerika mau menghadapi kenyataan itu? Tidak banyak. Karena kalau demikian kita harus mengakui bahwa kita sering berjuang bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk mempromosikan ketiadaan hukum!

Pertimbangkan beberapa pernyataan dari Bapak Pendiri. Dalam pelantikan pertamanya, Presiden George Washington berkata, “Fondasi kebijakan nasional kita akan diletakkan dalam prinsip-prinsip moralitas pribadi yang murni dan tetap.” Dan dalam Pidato Perpisahan masyhurnya, dia berkata, “Di antara semua kecondongan dan kebiasaan yang mengarah pada kemakmuran politik, agama dan moralitas adalah penopang tak tergantikan.” TANPA AGAMA DAN MORALITAS, WASHINGTON TAHU BAHWA EKSPERIMEN AMERIKA DITAKDIRKAN GAGAL. John Adams mendukungnya: “Para negarawan mungkin merencanakan dan memikirkan kebebasan, tapi AGAMA DAN MORALITAS SAJALAH yang dapat menegakkan prinsip-prinsip di mana di atasnya kebebasan dapat berdiri dengan aman.” Agama dan moralitas berakar kuat dalam HUKUM ILAHI.

Pada 1954, Ketua Mahkamah Agung Earl Warren menulis, “Saya percaya seluruh Deklarasi Hak-hak terwujud berkat pengetahuan para kakek moyang kita akan Alkitab dan keyakinan mereka padanya.”

Pemimpin politik atau keagamaan mana yang mau membuat pernyataan seperti orang-orang ini? BAHKAN PARA POLITISI YANG MENDIRIKAN REPUBLIK KITA LEBIH SPIRITUAL DARIPADA MAYORITAS PEMIMPIN KEAGAMAAN KITA HARI INI!

KONSTITUSI ADALAH FONDASI REPUBLIK KITA. Dan Sepuluh Perintah adalah, dalam banyak hal, fondasi Konstitusi. Kakek moyang kita percaya bahwa jika kita tidak menuruti Sepuluh Perintah Tuhan, REPUBLIK KITA AKAN RUNTUH!

JAUH LEBIH SULIT BAPAK PENDIRI KITA YANG MENUMPAHKAN CUCURAN DARAH DEMI KEBEBASAN KITA, DAN MENCIPTAKAN DAN MENEGAKKAN HUKUM KONSTITUSI KITA, DARIPADA KITA YANG CUMA MEMPERTAHANKANNYA! Jadi seharusnya kita menghormati Bapak Pendiri di atas diri kita sendiri. Tapi kita terlalu sombong dan angkuh untuk melihat betapa kuatnya mereka dan betapa céték dan lemahnya kita.

Konstitusi Mulia

Konstitusi kita sebagian besar didasarkan pada hukum Tuhan. Itulah kenapa saya percaya ia merupakan dokumen paling mulia yang pernah ditulis oleh sebuah pemerintah di dunia ini.

Itu dokumen langka. Kakek moyang kita mendapat kesempatan luar biasa untuk menegakkan aturan Tuhan di negara terkaya yang pernah ada. Jadi mereka menegakkan Konstitusi untuk melindungi kita semua dari ekstrim-ekstrim nalar manusia. Tiran, hakim zalim, dan pemimpin berbias dikendalikan oleh hukum ini.

Apakah Bapak Pendiri kita tahu bahwa Alkitab menafsirkan dirinya sendiri? Sampai taraf tertentu, saya yakin mereka tahu. Dan mungkin mereka merancang Konstitusi berdasarkan Alkitab, dalam pengertian itu. Konstitusi adalah dokumen yang menafsirkan dirinya sendiri secara lebih baik daripada buku atau dokumen apapun, selain Alkitab.

Kita melihat kebingungan tak terlukiskan seputar Alkitab hari ini. Kenapa? Karena orang-orang tak membiarkan ia menafsirkan dirinya sendiri!

Kita mendapat arahan dasar dari Magna Charta-nya Inggris. Padahal Inggris tak punya konstitusi.

Kakek moyang kita yang dipersekusi ingin perlindungan mereka dijabarkan secara rinci. Mereka sangat menderita di tangan para tiran. Kesengsaraan seperti itu memperdalam pemahaman orang-orang tentang nilai kebebasan.

Apa kita harus mengalami kesengsaraan tak terlukiskan agar dapat menghargai KEBEBASAN, YANG DIBERIKAN OLEH ATURAN HUKUM?

Mengusahakan Ketiadaan Hukum

Ketika Robert Bork ditunjuk menjadi Ketua Mahkamah Agung AS oleh Presiden Ronald Reagan, itu menimbulkan badai api di Kongress, dan dia pun gagal dikukuhkan. Tak lama kemudian dia menulis The Tempting of America, yang menurut saya adalah buku terbaik tentang hukum konstitusi dalam satu abad ini—mungkin sepanjang masa.

Para pendiri Konstitusi menempatkan tembok, atap, dan tiang Konstitusi kita, seperti kata Tn. Bork. Fungsi hakim adalah untuk melestarikan ciri-ciri arsitektur—menambah kerawang atau ornamen belaka. Yang terjadi justru para praktisi hukum dan hakim mengubah struktur demokrasi perwakilan kita.

Konstitusi sedang diubah secara dramatis. PADAHAL ITU ADALAH FONDASI REPUBLIK KITA! Kita sedang mengalami gempa konstitusi, dan sebagian besar masyarakat bahkan tidak tahu—belum. Masa depan Anda sedang diubah, dan seringkali Anda tak punya info.

Proses ini pasti berujung pada anarki! Itulah kenapa saya dan Anda seharusnya sangat prihatin.

Kenapa Bapak Pendiri bekerja begitu keras untuk menegakkan Konstitusi? Karena itu akan menjadi hukum tertinggi negeri ini.

“Seorang profesor hukum Harvard kenamaan,” tulis Tn. Bork, “beralih pada saya dengan jengkel dan mengatakan, ‘Gagasan Anda bahwa Konstitusi adalah hukum, pasti bersandar pada prinsip-prinsip filosofis samar yang tidak saya kenal.’”

Tapi perhatikan apa yang dinyatakan Konstitusi itu sendiri: “KONSTITUSI INI, dan undang-undang AS yang akan dibuat menurutnya, dan semua pakta yang dibuat, atau akan dibuat, di bawah kewenangan Amerika Serikat, AKAN MENJADI HUKUM TERTINGGI NEGERI INI; dan para hakim di setiap negara bagian akan terikat dengan cara demikian, walau bertentangan dengan apapun dalam Konstitusi atau undang-undang suatu negara bagian.

“PARA SENATOR DAN WAKIL tersebut di atas, dan para anggota beberapa legislatur negara bagian, dan semua petugas eksekutif dan yudisial, baik Amerika Serikat maupun beberapa Negara Bagian, AKAN DIIKAT OLEH SUMPAH ATAU AFIRMASI, UNTUK MENDUKUNG KONSTITUSI INI; tapi tes keagamaan tidak disyaratkan sebagai kualifikasi untuk suatu jabatan atau amanat publik di bawah Amerika Serikat.”

Seorang profesor hukum Harvard menyatakan Konstitusi bahkan bukan hukum! Pandangan itu datang dari universitas kita yang paling bergengsi. Fakta bahwa dia membuat pernyataan tersebut menunjukkan kita sudah memasuki KETIADAAN HUKUM YANG EKSTRIM!

Mayoritas pemimpin kita sekarang sependapat dengan profesor hukum ini. Dia membuat pernyataan yang menunjukkan kita sedang tidak menegakkan aturan hukum. Persoalan nyata di sini adalah ketiadaan hukum.

Cal Thomas menulis pada 8 Maret 2000 di Washington Times, “Dalam debat terakhir Demokrat sebelum pemilihan Super Tuesday, Wakil Presiden Al Gore menanggapi sebuah pertanyaan tentang tipe hakim Mahkamah Agung yang akan dipilihnya jika dia menjadi presiden: ‘Saya akan mencari hakim-hakim Mahkamah Agung yang mengerti bahwa Konstitusi kita adalah dokumen hidup dan bernafas, bahwa itu dimaksudkan oleh para pendiri kita untuk ditafsirkan dengan mempertimbangkan PENGALAMAN rakyat Amerika yang terus BERKEMBANG.’

“Pandangan Tn. Gore terhadap Konstitusi, yang dianut oleh kebanyakan politisi liberal, MERUPAKAN SALAH SATU FILOSOFI PALING BERBAHAYA DI MASA KITA. Itu membentuk segolongan raja filsuf yang menetapkan hak-hak rakyat dan menyobek KONSTITUSI SEBAGAI SEBUAH DOKUMEN YANG MENCOCOKKAN RAKYAT DENGAN PRINSIP-PRINSIP PERMANEN yang mempromosikan kesejahteraan mereka sendiri dan umum.

“Konstitusi ‘hidup’, catat pengacara konstitusional John Whitehead, berarti Konstitusi tersebut ‘bebas klaim’, dan itu menjadi apapun yang diputuskan para hakim, bukan rakyat melalui wakil terpilih mereka…

“PARA PENDIRI TAK PERNAH MEMAKSUDKAN PENGADILAN UNTUK MENJADI TERTINGGI. MAKSUD MEREKA ADALAH BAHWA HUKUM, YANG BERAKAR DARI KEBENARAN OBJEKTIF DAN TAK BERUBAH, AKAN MENJADI TERATAS.”

Cendekiawan hukum hari ini tidak percaya Konstitusi “BERAKAR DARI KEBENARAN OBJEKTIF DAN TAK BERUBAH”—dengan kata lain, mereka tidak percaya para pendiri kita menegakkan aturan hukum. Padahal itulah yang dilakukan para pendiri. Dan kini sebagian besar praktisi hukum dan hakim menolak pekerjaan dasar mereka.

Douglas Cox bekerja di Office of Legal Counsel untuk Ronald Reagan dan George Bush. Berikut adalah pernyataannya dalam Wall Street Journal, 2 Februari 1998: “SELURUH SISTEM PERADILAN didasarkan pada teori bahwa saksi akan mengatakan yang sebenarnya. MEMBIARKAN BUDAYA BOHONG MENGAKAR DALAM SISTEM PERADILAN PADA AKHIRNYA AKAN MENGHANCURKAN SISTEM TERSEBUT.”

Dia yakin budaya bohong pada akhirnya akan menghancurkan sistem peradilan kita! (Atau sudah?)

Pandangan kita hari ini mencerminkan kemerosotan maut ke dalam ketiadaan hukum!

Kenapa Agama dan Moralitas

Pada 1776, tahun ketika Thomas Jefferson membuat draf Deklarasi Kemerdekaan, John Adams menulis kepada sepupunya, “Agama dan moralitas sajalah yang dapat menegakkan prinsip-prinsip di mana di atasnya kebebasan dapat berdiri dengan aman.” Nah, lagi-lagi. Kenapa Bapak Pendiri terus menunjuk pada blok-blok penyusun fundamental ini? Adams sendiri menjawab pertanyaan tersebut pada 1798, selagi menjabat sebagai presiden: “KONSTITUSI KITA DIBUAT hanya UNTUK BANGSA BERMORAL DAN BERAGAMA. ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMADAI BAGI PEMERINTAHAN BANGSA LAIN MANAPUN.”

Itu jawabannya! Mereka terus merujuk pada agama dan moralitas karena, seperti kata Adams, KONSTITUSI KITA DIBUAT HANYA UNTUK BANGSA BERMORAL DAN BERAGAMA! Nah, pertanyaannya adalah, KENAPA? Kenapa Konstitusi ditulis hanya untuk bangsa bermoral dan beragama? Kenapa itu tidak memadai bagi pemerintahan bangsa lain manapun?

Pengamatan Alexis de Tocqueville di abad 19 terhadap republik Amerika menjawab pertanyaan krusial ini. Setelah keliling Amerika selama dua tahun di awal 1830-an, dia pulang ke Prancis dan menulis buku klasik politiknya, Democracy in America. Seperti para Bapak Pendiri, Tocqueville mengakui agama dan moralitas sangat diperlukan dalam memelihara republik Amerika. Kenapa sangat diperlukan? Dia bilang, sementara hukum kebebasan konstitusional memberi kebebasan sempurna kepada rakyat Amerika untuk berbuat sesukanya, agama MENCEGAH mereka BERBUAT HAL-HAL YANG TAK BERMORAL DAN TAK ADIL. Singkatnya, duga Tocqueville, kebebasan tidak dapat diatur terpisah dari keyakinan agama, supaya jangan ada anarki.

TANPA BATASAN MORAL DARI HUKUM SPIRITUAL YANG LEBIH TINGGI, KEBEBASAN YANG DIBERIKAN KEPADA RAKYAT AMERIKA DALAM KONSTITUSI AKAN DISALAHGUNAKAN. George Washington paham itu! Begitu pula seluruh Bapak Pendiri. Itulah kenapa mereka terus membicarakan agama dan moralitas. Mereka tak mau melihat Amerika Serikat menghancurkan diri sendiri.

Kesuksesan Konstitusi kita tidak bergantung pada partai politik mana yang kita ikuti—itu bergantung pada seberapa spritual diri kita secara biblikal!

Amerika Hari Ini

Hari ini, orang Amerika telah menyimpang dari cita-cita kakek moyang kita. Kita berdalil bahwa agama dan moralitas adalah baik, tapi tentunya tidak diperlukan untuk kesehatan negara ini. Kita telah tergiring untuk beranggapan keliru bahwa moralitas pribadi dan tugas publik adalah isu terpisah. George Washington akan gempar oleh penalaran seperti itu. Padahal dia adalah bapak negara kita.

Tentu saja zaman telah berubah di Amerika Serikat. Bayangkan seorang pezina dicemooh publik karena dosanya. Terlebih lagi, bayangkan seorang pejabat publik bahkan menyebut perbuatan itu dosa. Apa ini terasa kuno? Tidak 200 tahun lalu.

Mari kita tengok apa yang diyakini oleh dua presiden pertama kita tentang keluarga. “Singkatnya, generasi pendiri percaya bahwa kepentingan kaum pria dan kaum wanita saling melengkapi, dan mereka memandang pernikahan sebagai perintah ilahi, jalan baik untuk menyelenggarakan kehidupan. George Washington mengawali kepresidenannya dengan menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat harus didasarkan pada moralitas pribadi. Penerusnya, John Adams, suami setia Abigail, lebih rinci lagi: ‘Fondasi moralitas negara harus diletakkan dalam keluarga-keluarga pribadi.’ Dia lalu menyebut ANAK-ANAK BELAJAR ARTI MORALITAS, AGAMA, DAN HORMAT HUKUM DARI KESETIAAN SEHARI-HARI ORANGTUA MEREKA KEPADA SATU SAMA LAIN” (Angelo Codevilla, The Character of Nations).

Inilah satu-satunya jalan untuk menghapus dosa homoseksualitas!

Ketika orang Amerika bergeser dari pernyataan bahwa masyarakat bebas hanya dapat eksis bila didirikan di atas moralitas pribadi kepada pemikiran bahwa karakter tidaklah penting, sudah waktunya untuk mengajukan beberapa pertanyaan sulit tentang masa depan negara ini.

Respon rakyat Amerika merupakan isyarat seram akan masa depan negara kita. Jika kita gagal paham, itu tidak membuat berita buruk pergi.

Apa Anda mau mengindahkan ramalan buruk Bapak Pendiri Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.