Dulu Menyebutnya Penyakit Jiwa, Kini China Akui Hak Transgender

Oleh: Eugene K. Chow
23 Oktober 2017
Sumber: The Diplomat

Ada peningkatan toleransi terhadap kaum transgender China, tapi hanya untuk para pementas.

Jin Xing pentas di Maag Music Hall di Zurich, Swiss, 27 April 2006.
(Kredit gambar: AP Photo/Keystone, Eddy Risch)

Di China, Partai Komunis yang berbudaya konservatif telah menghapus penyebutan Winnie the Pooh di media sosial dan melarang gosip selebriti, tapi rezim represif itu sudah lumayan progresif mengenai sebuah isu tak terduga: hak transgender.

Hanya 20 tahun lalu pemerintah China menggolongkan homoseksualitas sebagai kejahatan, dan sampai 2001, menganggapnya penyakit jiwa. Tapi, dalam sebuah pergeseran besar, komunitas transgender China mencetak sederet kemenangan pada tahun-tahun terakhir.

Pada Juli, sebuah pengadilan China memutus memenangkan seorang pria transgender yang berargumen bahwa dirinya dipecat secara tak adil dari pekerjaan akibat identitas gendernya. Putusan bersejarah itu, diyakini sebagai yang pertama, menjadi perlindungan bagi komunitas LGBT China atas dasar bahwa pekerja tidak boleh didiskriminasi gara-gara etnis, ras, gender, atau keyakinan agamanya.

Secara kultural, wanita transgender sudah menyedot perhatian negeri itu. Variety show yang paling banyak ditonton di China dibawakan oleh Jin Xing, seorang wanita transgender. Acara yang diambil dari namanya itu menarik kira-kira 100 juta penonton setiap pekan.

Mungkin yang lebih signifikan adalah bahwa dia orang transgender pertama yang identitas gendernya diakui pemerintah. Merupakan mantan kolonel angkatan darat dan penari terkenal, dia menjalani operasi rekonstruksi jenis kelamin (gender reassignment surgery) pada 1995 dan secara terbuka berbagi perjuangannya, mendatangkan kesadaran publik yang lebih besar terhadap isu-isu transgender.

Para wanita transgender lain telah mendapat ketenaran, termasuk bintang opera Bian Yujie, model Liu Shihan, dan penyanyi Chen Lili, wanita transgender pertama yang mencoba bersaing dalam kontes kecantikan Miss World.

Di permukaan kelihatannya terdapat peningkatan penerimaan kultural dan ofisial terhadap komunitas transgender China, tapi begitu dianalisa lebih dalam tidak semua sepositif kelihatannya.

Sebuah survey pendapat baru-baru ini mengungkap bahwa sebagian besar penduduk China tidak paham sepenuhnya isu transgender dan menyimpan sentimen negatif. 34% dari mereka yang disurvey di China percaya bahwa menjadi transgender adalah bentuk penyakit jiwa, dan 42% tidak mendukung akses kamar mandi.

Kasus Liu Ting, wanita transgender yang menyedot perhatian negeri itu dua tahun lalu, membantu memahami disonansi kognitif dalam penerimaan budaya pop dan keyakinan pribadi.

Pada 2007, Liu Ting dielu-elukan sebagai “teladan kebajikan nasional”. Dia diberi penghargaan setelah menggendong ibunya yang sakit ke dan dari rumah sakit. Liu menjadi subjek perhatian hebat sekali lagi dua tahun silam saat menyatakan diri sebagai wanita transgender.

Media negara memujinya atas penampilan “berkulit langsat” dan “berhidung tinggi”—ciri-ciri menarik di China. Beijing Times menulis, dalam sebuah artikel tentang Liu, bahwa “wartawan mengamati ruangan dan tak bisa menemukan jejak maskulinitas”, dan mencatat jumlah produk perawatan kulit di kamar mandinya.

Gender Sebagai Pementasan

Sebagaimana diindikasikan dari liputan media tentang Liu, pujian dan penerimaan terhadap komunitas transgender China tampaknya sebagian besar disisihkan untuk wanita transgender glamor lantaran itu mendukung ide gender sebagai pementasan. Secara budaya, China punya sejarah panjang pementas berpakaian lawan jenis.

Dalam Opera Beijing, karakter wanita dimainkan oleh aktor pria, yang sudah dilatih khusus sejak usia muda untuk peran ini. Di Dinasti Ming dan awal Dinasti Qing, para seniman dan rombongan aktor rutin menggali kecairan gender di atas dan di luar pentas.

Cerita-cerita populer China zaman dahulu menampilkan pengenaan pakaian lawan jenis atau karakter-karakter yang hidup sebagai gender lain. Sebelum dipopulerkan oleh Disney, Mulan adalah cerita China abad ke-6 tentang seorang gadis yang berpakaian seperti tentara pria untuk menghindarkan ayahnya yang sakit dan adik-adiknya dari wajib militer.

Profesor Josephine Ho, kepala Center for the Study of Sexualities di National Central University di Taiwan, menjelaskan, “[Pengenaan pakaian lawan jenis] dianggap sebagai pementasan, sebuah pelanggaran sepintas dan sementara terhadap batasan gender. Baru di zaman modern, ketika jenis-jenis kelamin mulai bergaul terbuka, pembagian gender ditegakkan secara lebih ketat.”

Konteks sejarah ini membantu menjelaskan kenapa hampir semua wanita transgender yang menjadi tokoh budaya pop di China adalah penari atau pementas dan memenuhi arti tertentu kecantikan wanita. Tapi bagi orang-orang transgender di luar seni pementasan, kehidupan jauh lebih sulit.

Diskriminasi Kelembagaan

Sebagai contoh, mengganti jenis kelamin di kartu identitas terbitan pemerintah adalah proses birokrasi berbelit-belit yang membuat banyak orang terlantar secara hukum.

“Polisi bilang saya perlu pernyataan dari rumah sakit yang membuktikan rekonstruksi jenis kelamin saya sebelum mereka bisa mengubah kartu identitas saya. Tapi ketika saya pergi ke rumah sakit, karena saya dioperasi di luar negeri, tak ada yang mau menandatangani pernyataan,” kata Minnie Chen, direktur Trans-Life, organisasi advokasi nirlaba.

“Polisi ataupun rumah sakit tak mau menerima tanggungjawab dan entah apa yang bisa saya lakukan,” imbuhnya.

Orang-orang yang berhasil memutakhirkan kartu identitasnya menghadapi hambatan berbeda. Riwayat pendidikan dan pekerjaan tak lagi cocok dengan gender seseorang sehingga lamaran kerjanya sering ditolak oleh perusahaan lantaran kualifikasi masa lalu tidak dapat diverifikasi. Alhasil, banyak orang transgender terpaksa mencari keja di wilayah abu-abu di luar sektor resmi.

Layanan medis juga terbukti menjadi tantangan. Pada 2009, pemerintah China memperketat regulasi untuk operasi rekonstruksi jenis kelamin. Individu tidak boleh punya riwayat kriminal, harus di atas 20 tahun dan belum menikah, dan harus dapat izin keluarga terdekat.

Bagi banyak pihak, syarat terakhir menjadi penghalang. Menurut studi PBB 2016, hanya 15% dari populasi LGBT China menyatakan diri kepada keluarga mereka dan cuma 5% bersikap terbuka di sekolah atau tempat kerja.

Selain itu, akses ke terapi hormon terbatas akibat diskriminasi dan kurangnya pengetahuan.

“Orang-orang transgender memiliki saluran yang sangat terbatas untuk mencari bantuan medis di China. Kami kesulitan mengakses sumber daya medis. Komunikasi antara dokter dan kaum transgender betul-betul kurang dan mayoritas dokter tak punya pengetahuan klinis soal isu-isu transgender,” kata Pipi, salah satu pendiri Trans-Life.

Akibatnya, banyak orang pergi keluar negeri untuk mencari operasi rekonstruksi jenis kelamin dan terapi hormon, atau mengambil jalan membeli hormon secara daring dan menetapkan dosis sendiri, sebuah praktek riskan.

Memahami Nuansa

Sementara kepopuleran pementas wanita transgender seperti Jin Xing membantu meningkatkan kesadaran [khalayak], itu juga menciptakan narasi umum apa maknanya menjadi transgender.

Menurut sebuah perkiraan, terdapat lebih dari 4 juta orang transgender di China, tapi hanya 2,2% populasi yang melaporkan memiliki teman atau keluarga transgender. Alhasil, pemahaman atas isu-isu transgender sebagian besar dibentuk oleh Jin Xing, yang menikah dengan seorang pria dan menjadi ibu dari tiga anak pungut.

“Karena Jin Xing begitu tenar di China, banyak orang berpikir semua wanita transgender persis seperti dirinya,” kata Su Jingquan, yang mengidentifikasi diri sebagai wanita transgender lesbian.

Su telah berjuang untuk mendapatkan penerimaan dan pengertian. Bahkan orang-orang yang mengenali identitas gendernya menyangka dia berkencan dengan pria. Dia menyatakan diri kepada kedua orangtuanya dan berusaha menjelaskan bahwa jenis kelaminnya adalah perempuan dan bahwa ketertarikannya pada wanita merupakan orientasi seksualnya.

“Tentu saja mereka tidak mengerti,” kata Su. “Di mata mereka, saya hanyalah pria normal yang mengencani wanita.”

Dari tempat kerja hingga layanan kesehatan dan hak hukum, komunitas transgender China masih menghadapi diskriminasi berarti. Kendati sudah ada kemenangan-kemenangan hukum yang penting dan kesadaran lebih besar, dalam banyak hal persepsi tentang individu transgender masih terjebak di Dinasti Ming. Menurut ukuran tersebut, komunitas transgender China masih memiliki pertempuran panjang di depan.

Tentang penulis

Eugene K. Chow menulis tentang kebijakan luar negeri dan urusan militer. Karyanya dipublikasikan dalam The Week, Huffington Post, dan The Diplomat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.